PROGRAM WEBINAR RISE! 1.0 | BUSINESS 101: Learning to Unlearn EP04 Manajemen Inovasi dalam Upaya Menghadapi Perubahan yang Disruptif

Pada hari Jumat (3 Juli 2020), RISE! 1.0 | Business 101: Learning to Unlearn, salah satu acara yang digaungi oleh UGM melalui UGM STP, Innovative Academy, PT Gama Inovasi Berdikari, GMUM, dan Swaragama serta Jogja Family sebagai exclusive media partner. Melalui filosofi Resilience, Integrity, Scale Up, dan Entrepreneurial Mindset, RISE! 1.0 selalu menghadirkan topik-topik yang mampu memberikan insight bahkan solusi melalui live consultation bersama narasumber-narasumber yang ahli dalam bidangnya terhadap uncertainty dalam dunia bisnis.


Minggu ini di hari Jumat (3/7) merupakan gelaran keempat dari Zoominar RISE! 1.0. Dalam RISE! 1.0 minggu keempat ini menghadirkan Dr. Hargo Utomo, M. B. A., M.Com selaku Direktur Pengembangan Usaha dan dan Inkubasi UGM dan Ahmad Yuniarto selaku Excecutive Coach & Senior Advisor Strategic Management sebagai narasumber dengan dipandu oleh Moderator Ridha Basuki selaku Direktur Utama PT Gama Inovasi Berdikari.


Dalam gelaran keempatnya kali ini, topik yang diangkat adalah “Managing Inevitability of Change with Innovation Management”. Duet antara Hargo Utomo yang akan menyampaikan konsep universitas sebagai nukleus atau embrio inovasi serta Ahmad Yuniarto sebagai praktisi inovasi yang akan menyampaikan berbagai analisisnya secara internal maupun eksternal sumber inovasi dari luar universitas, merupakan pilihan yang tepat dalam pemilihan narasumber di minggu keempat ini. Belum lagi Moderator yang merupakan seorang Direktur Utama PT Gama Inovasi Berdikari, perusahaan yang mempunyai peran dalam akselerasi startup di UGM yang selalu menerapkan metode pengembangan bisnis berbasis inovasi ini merupakan pilihan yang sesuai dengan narasumber yang telah disebutkan di atas.


Hargo Utomo mempunyai harapan yang besar kepada bangsa ini dalam menyikapi perubahan. Ia ingin mengajak berfikir semua partisipan dalam webinar kali ini untuk membawa perubahan ke arah yang lebih baik untuk bangsa ini. Ia menyebutkan how to dealing with inevitable changes dengan fenomena pandemik baru-baru ini adalah sesuatu yang tidak diinginkan oleh semua orang namun harus dihadapi dengan cara yang tepat, bukan hanya dengan bereaksi namun dengan merespon melalui strategi. Dengan target peserta utama adalah pemangku kepentingan dari universitas lain, BUMN ataupun badan pemerintahan, dan berbagai


Perusahaan swasta, Hargo menekankan beberapa pernyataan yang pernah ditulisnya dalam Jakarta Post 16 tahun yang lalu, di antaranya adalah “perubahan adalah satu kata yang kerap kali dinanti tapi juga dapat ditakuti baik pada tataran individual maupun organisasional”, “ragam alasan dapat diungkap dan dipergunakan untuk men-justifikasi adanya perubahan itu. Pikiran positif mengarahkan kita bahwa perubahan (besar atau kecil), akan dilakukan untuk memperbaiki proses, prosedur, produk, atau luaran tertentu yang diharapkan.”, “untuk menghindari fenomeno surprise and fear of the unknown, maka peran sebagai pembelajar, yang bertumpu pada knowledge, skill, dan wisdoms memiliki urgensi bagi seseorang atau organisasi dalam menginisiasi dan mengawal perubahan.” Pernyataan terakhir relevan dengan konteks RISE! 1.0 yaitu proses learning to unlearn dari seorang pembelajar.


Menanggapi pemaparan dari Hargo Utomo, Ahmad Yuniarto membenarkan bahwa proses learn, unlearn, dan relearn adalah proses yang bisa diterapkan ketika kita menjadi seorang learner. Ahmad Yuniarto juga menjelaskan bagaimana setelah itu kita harus menerapkan reflective learning, yang dimulai dari merenung kemudian memproses apa saja yang kita cerna untuk diputar ulang sebagai langkah terakhir dalam proses tersebut. Upaya dalam menerapkan menajemen inovasi ini merupakan upaya dengan memanfaatkan ekosistem yang mana tidak hanya ekosistem internal namun juga ekosistem eksternal yang ada dengan metode open innovation salah satunya. Dengan menggunakan metode open innovation ini, bagaiman ekosistem-ekosistem (internal maupun eksternal) yang ada bisa digabungkan dan saling melengkapi untuk menumbuhkan inovasi.


Ahmad Yuniarto menyebutkan contoh UGM sebagai universitas yang mempunyai peran penting sebagai fasilitator dan pendukung dalam mewujudkan open innovation ini dalam berbagai ranah, yaitu Research dan Development, Lisence, Commercial Product, dan Product Development. Dalam hal ini, UGM yang berperan sebagai sumber inovasi bisa dimulai dari riset atau ide yang dapat dikolaborasikan dengan technopark yang dimiliki oleh UGM. Metode lain dalam manajemen inovasi adalah frugal innovation yang berarti achieve more with less. Bagaimana suatu entitas dapat mengencerkan kompleksitas pemanfaatan (dalam pengembangan teknologi maupun produk) agar fit to purpose. Dengan berbagai metode ini, diharapkan UGM dapat mencoba membawa sumber daya untuk membangun ekosistem untuk pergerakan inovasi, salah satunya dapat melalui PT Gama Inovasi Berdikari yang mana mempunyai peran penting dalam scaling up bisnis melalui inovasi.